kabar berita
you're reading...
arema indonesia aremania

Match Analysis: Arema 4-1 Mitra Kukar

Malang – Dominasi Arema Indonesia sebagai tim tuan rumah Grup B turnamen Piala Menpora semakin menjadi-jadi. Ini terbuti dari kemenangan telak yang mereka raih atas Mitra Kukar dengan skor 4-1 di Stadion Kanjuruhan, kemarin (23/9) malam.

Dengan kemenangan ini kans Arema untuk lolos ke babak final semakin terbuka lebar. Apalagi di pertandingan sebelumnya Persepam Madura United dikalahkan Loyola Meralco Park dengan skor 1-2.

Dengan kedua hasil tersebut, Arema memimpin Grup B dengan raihan poin sempurna angka 6 dari dua pertandingan. Hanya perlu satu poin untuk membantu Arema lolos ke final. Kesempatan ini amatlah terbuka lebar, mengingat lawan yang dihadapi pertandingan terakhir nanti adalah Persepam MU. Andaikan Arema mampu tampil stabil seperti saat melawan Mitra Kukar, tak mustahil Arema akan kembali meraih kemenangan.

Battle 4-2-3-1, Arema vs Mitra Kukar

Perubahan taktik yang diterapkan kepada Pelatih Joko Susilo mungkin menjadi salah satu kunci kemenangan “Singo Edan” di Kanjuruhan. Keluar dari pola pakem 4-3-3 yang menjadi ciri khas Rahmad Darmawan, Joko Susilo di pertandingan tadi malam memakai pola baru 4-2-3-1.

Ia terlihat sedang bereksperimen dalam Piala Menpora ini. Di laga awal, saat menghadapi Loyola, Joko memakai pola 4-4-2 dengan memakai dua targetman sekaligus, yaitu Beto Goncalvez dan Christian Gonzales.

Ini berbeda dengan pertandingan tadi malam. Joko memasang Gonzales sendirian di depan, sementara Kayamba Gumbs dan Greg Nwokolo dipasang di kanan dan kiri untuk memasok suplai pada El Loco. Sementara itu Edemar Garcia dibelakang Gonzales.

Pada hakikatnya, dengan memasang 3 pemain bertipikal penyerang murni secara bersamaan, saat menyerang maka formasi akan menjadi 4-3-3, dengan Greg dan Kayamba sebagai flank menusuk ke tengah.

Peran double pivot dipercayakan kepada duet Hendro Susilo dan I Gede Sukadana. Menarik dicermati adalah pada posisi backfour di lini belakang. Hanya Thierry Gatussi pemain murni sebagai yang bermain sebagai centerback. Secara bergantian fullback kanan Munhar dan Gilang Ginarsa mendampingi Gatussi.

Sementara itu di kubu Mitra Kukar, pelatih Stefan Hanson serupa memakai 4-2-3-1 dengan Spasojevic sebagai targetman. Kembalinya Ahmad Bustomi dan Zulham Zamrun usai pertandigan ISL All star juga mempersolid barisan lini tengah Mitra. Masuknya kembali Zulham menggeser posisi Spasojevic ke targetman, setelah di laga sebelumnya ia menempati posisi penyerang sayap.

Kerenggangan antara Lini Belakang dan Depan Arema

Empat gol yang dicetak Arema Malang bukanlah berdasarkan dari skema penyerangan yang sudah dirancang sedemikian rupa. Gol-gol ini berawal dari blunder kiper dan lengahnya barisan pertahanan Mitra Kukar yang gagal menutup ruang tembak Gonzales.

Kendati mengalami perubahan formasi dari 4-4-2 menjadi 4-2-3-1, skema serangan Arema tak begitu berubah. Mereka bermain sama seperti saat menghadapi Loyola, yaitu hanya mengandalkan umpan-umpan panjang dari lini belakang. Proses gol-gol Arema pun tercipta melalui proses serangan balik melalui skema ini.

Terjadi kerenggangan yang cukup jauh antara barisan depan dan belakang Arema, di mana duet double pivot Hendro-Gede Sukadana lebih banyak beraksi depan area final third Arema sendiri ketimbang maju ke depan. Hal ini terjadi karena Arema menarik garis pertahanan yang amat dalam di belakang dekat dengan kiper.

Patut dicermati peran Gonzales di lini depan, posisinya tak hanya terpaku di depan. Dengan bebas ia bergerak ke kanan-kiri. Saat membangun serangan ia biasa mundur terlebih dahulu ke belakang. Secara bergantian Gumbs atau Edemar Garcia melakukan lari diagonal. Garcia berlari ke sayap kanan dan Gumbs ke cutting ke dalam kotak penalti.

Dominasi serangan Arema berawal dari sayap, dari kerja sama Gumbs-Garcia. Posisi Gumbs saat berada di kotak penalti selalu rapat dengan Gonzales dan Greg Nwokolo yang terkadang naik ke depan. Ketiga pemain ini selalu bermain rapat satu sama lain. Karena itu terlihat grafik serangan dari sayap kiri Arema amatlah minim akibat posisi Greg yang masuk dalam kotak penalti.

Tiga penyerang dalam kotak penalti membuat lini belakang Mitra rapuh. Kondisi inilah yang membuat Maitimo dan Bustomi mundur. Karena itu terjadilah kerenggangan antara lini tengah-belakang dengan lini depan. Alhasil seperti Arema, Mitra Kukar pun hanya mengandalkan longballs semata.

Mitra Kukar yang Hanya Mengandalkan Zulham Zamrun

Serangan Mitra Kukar didominasi oleh crossing-crossing ke dalam kotak penalti dengan target Spasojevic [lihat chalkboard di atas]. Tetapi setelah Maitimo dan Bustomi ruang geraknya tertahan dibelakang, pasokan kepada Spasojevic menjadi tertahan. Tak ada suplai bola, akibatnya Spasojevic pun lebih banyak mundur ke tengah mencari bola ketimbang berada di depan.

Peran Frangipane sebagai pengatur serangan di lini depan kurang begitu maksimal. Ini karena ia selalu dimarking ketat oleh duet pivot Arema, Hendro-Gede. Posisi Esteban di sayap kanan pun sama demikian. Ia di jaga ketat oleh Benny Wahyudi dan Greg Nwokolo, yang pada pertandingan tadi malam lebih bersifat bertahan ketimbang menyerang.

Arema memang melakukan pressing yang ketat saat Mitra menguasai bola di setengah lapang wilayah mereka. Posisi garis pertahanan yang amat cukup tinggi membuat setidaknya ada 2-3 pemain siap mem-pressing pemain Mitra saat mereka membangun serangan dari tengah.

Pressing ketat yang dilakukan arema [lihat chalkboard di atas] disertai dengan permainan yang berujung pada keras dan kasar. Di babak pertama tercatat ada 16 tekel yang dilakukan oleh Arema, 11 diantaranya adalah tekel gagal yang berujung pada pelanggaran.

Mayoritas tekel gagal dilakukan di area sayap kanan Arema oleh Munhar dan Gilang Ginarsa kepada Zulham Zamrun. Tekel, yang amat sering ini, wajar saja membuat Munhar dan Gilang masing-masing mendapat kartu kuning. Zulham Zamrum memang merupakan satu-satunya tumpuan serangan dari Mitra Kukar.

Pemain ini adalah pemain yang memilik kekuatan dan stamina yang kuat. Sayang, umpan silang yang ia berikan ke dalam kotak penati selalu mentah terbuang karena posisi Spasojevic yang mundur ke belakang. Gerakan memotong kebelakang yang ia lakukan pun acap dimentahkan karena tak ada rekan yang membantu. Namun di babak kedua hal itu berubah karena Arema bermain terbuka.

Kesimpulan

Arema memang menang telak, tetapi hal itu bukan jaminan Arema bermain bagus. Eksperimen yang dilakukan Joko Susilo masih belum bisa menampilkan permainan yang menarik. Pola serangan Arema selalu mudah terbaca oleh lawan.

Beruntung Arema memiliki penyerang sekelas Christian Gonzales yang pandai membaca arah bola, dan kerap melakukan pressing ke arah kiper dan lini pertahanan Mitra Kukar. Suksesnya El Loco memanfaatkan kesalahan kiper untuk mencetak dua gol, berarti Mitra Kukar sulit untuk membalikkan keadaan. Arema pun dengan mudah menambah pundi-pundi gol.

Tapi seandainya Arema ingin mengangkat piala di hadapan pendukungnya sendiri, tentu permainan yang mudah terbaca ini mesti segera diperbaiki. Bagaimanapun juga Central Coast Mariners atau Persib Bandung, yang mungkin jadi wakil grup A di final, bukan lawan sembarangan.


====

* Akun twitter penulis: @panditfootball

Sumber: Detiksport

About AremaSport

berita tentang arema indonesia dll

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: