kabar berita
you're reading...
Aremania televisi online - berita pilihan

Dari Kami Untuk Sam Ikul !!

Minggu ini kami kembali berkabung. Kami yang larut dalam tawa dan tangis, kami yang menyesal dan belajar dengan bola di atas kaki kami. Ada umpatan yang semakin kasar ketika menyadari apa yang tengah terjadi, ketika kami melihat dia yang terbaring di tengah-tengah atmosfer yang memuakkan. Entah siapa yang membuatnya menjadi memuakkan seperti ini. Ah, lebih baik berjalan diam tanpa mengungkit.

Katanya ada 16 tahun yang terjalin. Perjalanan 16 tahun yang membuatnya melihat apa yang sebenarnya ada di balik kami yang bernama mirip dengan lakon utama Kidung Panji Wijayakrama, perjalanan 16 tahun yang membuatnya tetap memegang kami walau waktu telah berjalan lebih dari 16 tahun. Kami melihat dengan mata, namun ia melihat tanpa mata. Ada yang mampu ia percayai walau tak melihat. Semacam ikatan batin yang lahir dari kebanggaan akan peluh dan perjuangan.

Kami memanggilnya Sam Ikul. Pria bersahaja yang menguatkan kami dengan setiap liku hidupnya yang terlalu rumit. Terkadang kami berpikir tentang kekuatan seperti apa yang dianugerahkan Tuhan ke dalam tubuhnya yang jauh dari kata bugar. Penyakit yang bercokol  dalam hatinya membuat pria yang menjadi salah satu manusia terbaik bagi kami ini harus hidup dengan beban yang tak ringan. Seandainya beban tadi bisa berpindah, kami juga rela menanggungnya. Rasanya tidak adil saat harus melihatnya yang tertatih setelah tahun-tahun hidupnya dihabiskan untuk membuat kami tetap hidup. Tahun-tahun yang dipersembahkan agar nama kami harum dan bermartabat.

Semuanya bermula dari 11 Agustus hampir 26 tahun yang lalu. Tanggal keramat yang tampaknya memang digariskan Tuhan untuk kami. Atas nama cinta akan sepakbola kami lahir. Layaknya orang tua terbaik, semuanya tidak berhenti sampai di sini. Ia menghidupi kami dengan tangan yang  kokoh, pikiran yang jernih, nurani yang murni. Menemani kami menjalani kehidupan lapangan hijau yang ternyata tidak semudah menjabarkan deskripsi statistik sepakbola. Rasanya ingin menghardik setiap komentator yang berceloteh di setiap jalannya pertandingan karena semuanya memang tidak semudah mengangkat kartu kuning dan tidak semenyenangkan selebrasi saat bola bersarang di gawang lawan.

Galatama adalah perjuangan pertama kami bersama Sam Ikul. Keterbatasan karena semua yang serba baru membuat kami harus bergerilya. Kenyamanan yang seharusnya menjadi hak kami harus diganti dengan kerasnya barak militer. Tapi tak apa, anggap saja setiap kemewahan membutuhkan harga yang mahal. Ya, gelar juar adalah satu-satunya kemewahan yang kami harapkan – kemewahan yang tidak dapat ditandingi oleh lusinan Mercedes Benz seri terbaru. Musim 1992/1993 adalah bukti bahwa segala jerih payah pasti akan terbayar lunas. Gelar juara dalam naungan kompetisi Galatama adalah hadiah terbaik bersama Sam Ikul yang bisa kami nikmati sekaligus persembahkan bagi mereka yang tak kenal lelah menyemangati kami sampai peluit panjang berbunyi.

Tadinya kami berpikir bahwa dalam sepakbola, tidak ada masalah yang lebih sulit daripada mempertahankan gelar juara. Namun kenyataan berkata lain, masalah finansial ternyata menjadi salah satu tantangan terbesar. Tidak tanggung-tanggung, pada tahun 2003 kami harus merelakan diri saat diakuisisi oleh salah satu manufaktur raksasa negeri ini. Tapi sudahlah, yang penting kami tetap dapat bersepakbola.

Pada kenyataannya Sam Ikul harus merelakan apa yang telah diperjuangkannya namu aturan kepemilikan saham dan segala remeh temehnya tidak membuat Sam Ikul meninggalkan kami begitu saja. Dia tetap bersama kami, mendukung kami dengan segala kekuatan yang ada. Kami terlalu percaya kalau ia juga terlarut dalam megahnya gelar juara yang mampu kami raih dalam kurun waktu 2004 sampai 2007. Dan benar saja, saat raksasa itu melepas kami – Sam Ikul tidak tinggal diam, ia semakin mencurahkan hidup dan waktunya untuk kami.

“Saya hanya bisa mendengarkan. Namun saya bisa merasakan atmosfer laga Arema.”

Tidak ada yang terjadi secara kebetulan, selalu ada alasan terbaik ala Sang Pemberi Hidup atas segala sesuatu. Dulu apa yang bisa kami lihat adalah Sam Ikul yang terus melemah. Duduk lesu tanpa daya di tribun khusus yang kami sediakan hampir di setiap laga. Apa yang kami dengar adalah Sam Ikul yang menangis karena tak mampu bersama kami saat penyematan gelar juara Super Liga Indonesia 2009/2010. Rasanya aneh saat harus mengangkat trofi tanpa gelak tawa pria beranting emas putih ini. Mata Sam Ikul terbuka namun tanpa cahaya. Seolah berbicara tentang apa yang terjadi pada sepakbola negeri ini. Ada stadion yang penuh sesak, ada laga sengit yang bergulir, ada gol dan selebrasi yang melantun bersahutan, ada bintang lapangan yang lahir dan bereinkarnasi – namun semua hanya bungkus dari gelapnya masa depan sepakbola negeri ini.

Kami bingung harus mengutuk siapa, kami takut untuk mensyukuri apa. Semuanya terus berjalan, terlalu cepat bahkan kacau. Ada situasi yang tidak terkendali, berlarian terlalu jauh dari jalur nurani dan logika. Ada perjalanan tanpa arah dan kegelapan tanpa akhir. Namun pria ini tetap berdiri tegak walau duduknya terlihat tak lagi sempurna. Ada ketakutan yang tidak bisa berbohong, tetapi tak kehilangan percaya yang sanggup membuatnya berdiri tegak menopang kami yang menggiring bola dengan ragu dan lelah. Matanya tidak sanggup lagi menangkap cahaya, namun apa yang hidup di dalam batin jauh lebih terang dari cahaya duniawi – layaknya segelintir harapan yang berdiri tangguh menantang masa depan yang tak pasti. Rentetan fakta tak kasat mata yang membuat kami sadar kalau atmosfer superior ala lapangan hijau terlanjur menyatu dalam batin adalah anugerah Tuhan yang tak terenggut walau tubuh tak lagi kuat.

Dia ingin kami menciptakan bintang, bukan membeli bintang. Amanah yang membuat kami belajar bahwa segala sesuatu membutuhkan proses yang tidak pernah berkodrat sebagai kemudahan. Ada harga tinggi yang harus dibayar, ada ketidakpastian yang harus ditantang tetapi di atas semuanya, ada mimpi yang pantas diperjuangkan. Kami mengingat kebanggaan saat mengangkat piala dan gelar bersamanya, mungkin sudah terlalu lama. Tertawalah kalau kalian mau tertawa, namun tawa dan bahagianya masih meneriaki kami dengan lantang. Meneriaki kami kalau sejarah harus terulang lagi dalam versi kami tanpa menghiraukan segala bentuk kekacauan yang ditawarkan dualisme yang terlanjur menodai kesakralan sepakbola negeri ini.

24 April kemarin kami sadar kalau Sam Ikul sudah tidak lagi menginjak bumi. Raganya sudah terkubur di dalam liang yang berarti pintu menuju baka. Kata mereka segala sesuatu akan bertemu dengan titik jenuhnya, jika terlalu jenuh saat untuk kembali memang sudah tiba. Tetapi kami percaya yang lain. Kami memang tidak lagi bersama Sam Ikul, tetapi ia kembali bukan karena jenuh. Ia kembali karena setumpuk tugas yang memang sudah selesai. Tuhan memanggilnya bukan karena ia terlalu lelah, tetapi karena kebanggaan dan kebahagiaan duniawi terlalu kecil untuknya, karena penyakit dan penderitaan terlalu gentar untuk bertemu dengannya.

Dia yang telah pergi membuat kami berduka, sepakbola terisak dan Merah Putih menangis. Tetapi tenang saja karena di balik sengguk tangis tetap ada semangat dan cinta yang tumbuh membesar, semangat dan cinta untuk menopang sepakbola Merah Putih lewat biru kami yang menggila. Ah, selamat jalan Sam Ikul. Terima kasih untuk hidup dan cintamu. Berbahagia saja di sana karena warisan sepakbolamu tetap hidup, karena warisan sepakbolamu tidak ikut terkubur dalam ajal

About AremaSport

berita tentang arema indonesia dll

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori